Showing posts with label #bloggerEKC I. Show all posts
Showing posts with label #bloggerEKC I. Show all posts

Wednesday, February 29, 2012

Cerpen : @auliacippidh

Unlucky Lucky Life


            Hari ini terasa sangat berbeda, sama seperti hari kemarin. Dimana hari itu berubah semenjak kematian Ryan. Rasanya semuanya begitu berbeda. Tidak ada lagi ucapan – ucapan yang dulu biasa bagiku namun kini itu sangat terasa manis meski sederhana. Dia pergi meninggalkanku sejak penyakit itu masuk dalam hidupnya.  Namun aku harus sadar dengan keadaan ini. Kini semuanya telah berbeda, bahkan sudah sangat berbeda. Ya, tanpa dia disisiku lagi. Dia yang sangat aku cinta, pergi untuk selama – lamanya. Aku harus bangkit, menjalani hidupku lagi. Masa depanku masih panjang, masih sangat panjang itu yang kini ada di benakku. Meski hatiku sangat sakit, tapi ini lah yang telah aku alami. Harus aku terima, dan harus aku lewati.  Aku beranjak dari beranda kamarku. Menarik tas dan kunci motorku, lalu pergi.
       Siang itu di kampus. Aku berkutat dengan tugas – tugas kuliahku. Aku belum menyelesaikan beberapa tugasku, karna beberapa hari kemarin kondisiku yang benar – benar tidak stabil. Banyak yang tertinggal semenjak aku tidak masuk kuliah. Hari ini aku memutuskan untuk kembali ke kampus, melanjutkan hari – hariku menjadi mahasiswi, meskit tanpa Ryan sebagai malaikatku. Itu julukanku buat Ryan.
            “Childa” seseorang menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh sesaat setelah seseorang memegang bahuku, dengar suara yang tak asing lagi.
            “Dennis” aku tercengang memandang keberadaannya di hadapanku. Dengan wajah polos, aku menatapnya tajam dalam waktu cukup lama.
            “Hei Chil, whats wrong? Any problem? Aya naon neng? Eneng opo mbak?”
            “Selalu seperti itu” seketika saja aku memalingkan pandanganku. Dennis adalah sahabatku sejak kecil. Kita selalu satu sekolah sejak TK sampai SMP. Saat masuk SMA, Dennis pindah ke Kalimantan, kami tak pernah bertemu dengannya lagi semenjak itu.
            “Maaf dong, kenapa sih? Masih sedih ya, sorry sorry. Ya aku ngerti sih gimana perasaan kamu sekarang. Tapi bangkit lah, kamu yang dulu kemana?” Dennis duduk disampingku seraya mengelus kepalaku seperti yang biasanya dia lakukan.
            “Kamu nggak salah kok, emang mood aku masih belum balik aja seperti dulu. Lah, entar dulu. Kok kamu bisa disini? Ini kan kampus aku, dan kapan kamu balik dari Kalimantan? Jahat banget nggak kasi tau aku, kalau kamu kasi tau kan aku bisa jemput kamu ke bandara. Atau....” ucapku terhenti sesaat Dennis menutup mulutku dengan tangannya.
            “Syutttt, bisa nggak kalau nggak panjang – panjang ngomongnya?” kesal Dennis
            “Mmmmmmmm......” Aku tak bisa berbicara, karna mulutku masih di tutup sama Dennis. Aku mencubit tangannya, dia pun lekas melepaskan tangannya.
            “Sakit banget, jahat banget sih sama aku..” Aku ngomel tidak tentu rudu
            “Syuttttt!! Diam kenapa, kamu ni ya.”
            “Sorry, habis aku bingung kenapa kamu disini.”
            “Aku pindah kesini, kamu jangan sedih lagi ya. Aku pengen bisa buat kamu kembali seperti dulu. Childa yang aku kenal. Kamu itu seperti malaikat buat aku Chil, sejak kecil kita udah sama – sama dan saling ngerti”
“Tapi aku benar – benar kehilangan dia” mataku sudah berkaca – kaca. Namun aku berusaha menahannya.
“Cinta itu milik siapa saja. Meski perpisahan telah datang diantara kalian. Ingat. Itu hanya raga. Bukan hatimu dan hatinya. Hatinya hidup disini. Meski tidak bisa saling memiliki, namun merasakan cinta itu milik hak siapa saja” Sambil Dennis menunjuk ke arah hatiku. Tak sempat aku bertanya lagi, Dennis menarik tanganku, dan beranjak pergi.
            Sudah dua minggu Dennis pindah ke kampusku. Dia selalu ada disampingku. Mencoba menghiburku, agar aku tidak ingat terus dengan Ryan. Aku menghargai usahanya. Sesekali dia merayuku, mencoba membuat aku tersenyum seperti dulu. Namun sedikit demi sedikit aku mulai luluh olehnya. Dia membantuku mendapatkan semangat yang dulu. Dia selalu ada disampingku, kemana saja aku pergi. Dia selalu ada jika aku butuh, bahkan disaat aku tidak butuh. Dia mengerti aku, sama seperti dulu. Bahkan banyak hal yang dia lakukan, hampir sama seperti yang dulu Ryan lakukan padaku. Semakin lama aku merasakan, seperti menemukan Ryan di dirinya. Entah apa yang ada di benakku. Aku merasa Ryan hidup dalam diri Dennis. Aku tidak mengerti dengan perasaan ini. Aku kenal Dennis terlebih dulu, daripada Ryan. Tapi kenapa aku merasa Dennis sangat mirip dengan Ryan.
            “Childaaaaaaaa!!” teriakan keras dari kejauhan yang sudah tidak asing lagi. Aku pun menoleh. Kudapati Ayunda sedang berlari ke arahku. Dia teman baikku dari SMA.
            “Hai Nda” Aku melambaikan tanganku ke arahnya. Saat dia sampai dia langsung duduk di sampingku.
            “Hei, aku cariin kamu kemana  - mana.” Sambil memegang bahuku
            “Ada apa emangnya?” tanyaku dengan wajah polos
            “Ini penting banget. Lebih penting dari apapun. Dan aku harus tanyain ini sama kamu sekarang, yang penting kamu harus jawab ya. Jangan nggak kamu jawab. Nanti aku ngambek sama kamu. Aku nggak mau tegur kamu, aku....”
            “Syuuuutt!!!! Intinya aja kenapa sih?” Aku memotong omongan Yunda
            “Iya sorry. Haha, aku perhatikan kamu sekarang udah bisa jauh lebih tegar ya. Apalagi semenjak ada Dennis. Kamu jadian ya?”
            “Nggak kok. Aku sama dia sahabatan aja kali Nda. Kita memang selalu seperti itu kok. Udah saling paham juga.”
            “Masa sih? Kok lebih seperti pacaran ya?” Dengan wajah polos dia menatapku tajam
            “Beneran lah. Siapa juga yang jadian.”
            “Tapi kamu suka kan sama dia? Haha ngaku aja deh, aku paham ni wajah – wajahmu” Dia menggodaku, dengan wajah sok tau.
            “Nggak lah, yuk kita masuk. Sebentar lagi jam nya bu Euis.” Sambil mengemaskan barang – barang.
            “Aaaa kok gitu sih? Jawab dulu dong”
            “Udah ayo masuk” aku berdiri sambil menarik tangan Yunda
            Suatu malam, Dennis menjemputku ke rumah. Biasanya dia memang ke rumah, tapi berbeda dengan malam ini. Dia datang membawakanku bouqet mawar merah. Dia memang selalu seperti itu, membawakan aku bunga mawar, namun berbeda dari biasanya. Kali ini bukan bouqet mawar putih yang dia bawa. Tapi mawar merah. Semenjak dulu, Dennis memang sering memberiku bunga mawar putih, sampai aku tidak menemukan itu semenjak dia pindah ke Kalimantan. Tapi kali ini dia memberiku mawar merah. Aku benar – benar sangat bingung dengan perasaan ini, hatiku tidak bisa bohong. Aku merasakan ada yang berbeda. Aku hanya termenung melihatnya memberikanku bunga itu.
            “Hi” ucap Dennis. Tapi aku masih termenung melihat apa yang ada di tangannya. Dia menyadarkanku, dia berdehem sangat kuat.
            “Eheeemmmm!!” Dennis menatap mataku dengan tajam.
            “Oh, em, aku. Maaf maaf, sorry Den. Aku...” belum selesai aku berbicara, Dennis memotong omonganku.
            “Ini buat kamu” Dia menatapku semakin tajam. Hatiku tidak berhenti berdegup kencang. Apa yang aku rasakan, masih belum aku mengerti. Apa aku jatuh cinta dengannya. Entah lah, kuharap ini hanya sebatas rasa sayangku sebagai sahabat.
            “Makasih Den” Aku tersenyum
            “Iya. Udah siap?”
            “Iya. Aku simpan bunga ini sebentar.” Aku meletakkan bouqet di ruang tamu. Lalu kami pun pergi. Malam itu Dennis mengajak aku kesuatu tempat. Tapi dia tidak bilang sama aku. Aku hanya bisa mengikutinya. Memang ada yang berbeda malam ini. Dennis nyetir mobil sangat tenang. Dia juga lebih tampak rapi. Walau dia memang selalu rapi, tapi aku merasakan ada yang berbeda.
            Kampus. Ya, aku bingung kenapa Dennis membawaku ke kampus malam – malam seperti ini. Dia memintaku menutup matanya dengan sehelai kain yang dia sodorkan. Aku hanya menarik nafas cukup panjang, dan aku menurutinya. Dia menuntunku mengarungi jalanan kampus. Entah kemana, aku tidak tahu. Sudah cukup jauh rasanya kami berjalan. Aku selalu bertanya kepadanya, tapi dia tidak menjawabku. Tanganku terus di pegangnya. Sehingga aku tidak bisa membuka penutup mataku. Tak lama kami pun sampai. Aku mendengar alunan musik yang sangat aku suka. Lagu ini yang selalu aku dengar. Permainan piano yang sangat aku kenal.
            “Den, itu siapa yang main piano? Den, Dennis. Ini kita kemana sih? Den..” penutup mataku di buka. Aku mendapatkan Dennis tengah bermain piano di pinggiran kolam renang kampus yang telah dihiasi lilin – lilin dan balon. Aku menoleh ke belakang. Bukan Dennis yang membawaku. Ternyata Josep teman satu kelasku. Aku memandangi Dennis dari jauh. Dia memainkan lagu kesukaan kami. Tak lama, dia berdiri dari kursinya. Dia beranjak dan berjalan mendekatiku. Jantungku semakin berdegup kencang. Dan kini dia berada tepat di depanku. Apa yang aku rasakan.
            “Chil” Dennis memegang tanganku erat. Mata coklatnya menatapku sangat tajam. Suasana kolam renang kampus yang telah di hiasi dengan lilin dan balon terasa sangat romantis. Ramai teman – temanku disana, masing – masing membawa balon warna – warni.
            “Ada apa ini Den?” aku masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.
            “Selama dua minggu aku disini. Aku merasa aku punya rasa yang berbeda sama kamu. Kamu pasti bingung kenapa aku membawakan mu bouqet mawar merah, bukan putih seperti biasanya. Itu karena aku jatuh cinta sama kamu, bukan sekedar sayang sebagai sahabat saja Chil. Aku juga nggak tau kenapa rasa ini bisa seperti ini. Aku cinta sama kamu? Mau kah kamu jadi malaikatku untuk selamanya?”
            “Kamu tau aku cinta sama Ryan. Dia adalah orang yang bisa buat aku merasa paling bahagia. Namun kini ada kamu. Ini yang sempat aku takutkan. Aku takut aku jatuh cinta sama kamu. Tapi aku tidak bisa bohongi perasaanku. Aku juga cinta sama kamu Den. Aku mau, dan aku harap kamu juga mau jadi malaikatku.”
            “Tentu” Dennis lekas memelukku erat. Mendekapku begitu dalam, benar – benar terasa hangat. Dalam dekapnya aku tersenyum dan lega. Dan aku berharap akan tetap baik – baik saja sampai kapanpun. Tiba – tiba saja langit malam itu penuh dengan kembang api. Riuh suara tepuk tangan dan senyuman kesenangan teman – temanku tampak jelas menghiasi malam itu.
            Sudah seminggu kami pacaran. Senang rasanya aku bisa berada disampingnya. Bangga dengan setiap sanjungan manisnya. Aku merasakan Ryan masih ada di dekatku. Aku cinta Dennis bukan karena aku merasa dia mirip Ryan. Tapi karena aku lebih memiliki keyakinan hati aku. Bukan karena hal lain. Sama seperti pasangan lainnya. Makan, nonton, jalan, foto – foto, shopping, dll. Aku merasa bahagia menjadi bagian hidupnya yang kini punya tempat spesial di hatinya. Dennis pacarku, yang juga sahabatku.
            “Capek banget ya Nda hari ini. Tadi kamu bisa test nya?” tanyaku ke Ayunda.
            “Aku bisa Chil, tapi aku rasa jawabanku nggak ada yang bener” wajahnya tampak sedih.
            “Kamu tam?” aku bertanya dengan Tama pacar Yunda
            “Aku bisa – bisa aja sih. Bisa nebak nya, hehe. Udah lah sayang, kamu pasti bener kok jawabannya.” Tama merangkul Yunda yang sedih sambil manyun – manyun.
            “Haha kalian ini”
            “Chil, si Dennis belum jemput kamu? Tanya Tama
            “Iya ni. Tumben banget. Hp nya juga nggak bisa di hubungi”
            “Dia nggak ada jadwal kuliah?” tanya Yunda
            “Nggak ada katanya. Makanya dia bilang nanti suruh hubungin dia kalau udah mau pulang. Tapi dari pagi hp nya nggak aktif”
            Sejam sudah aku menungg Dennis menjemputku. Dia tak kunjung datang, akhirnya aku memutuskan untuk naik taxi lagi. Yunda dan Tama sudah aku suruh pulang duluan. Karena aku tidak ingin merepotkan mereka.
            Empat hari sudah Dennis tidak ada kabar. Ini membuat aku sangat bimbang. Aku sedih dia bersikap seperti ini. Bukan karena dia tidak memberi aku kabar. Tapi karena dia tidak menepati janjinya. Hari ini aku ke kampus sendirian. Aku bergegas mengeluarkan motorku dari garasi. Tiba – tiba hp ku berdering. Tertera nama Yunda disana. Aku pun lekas menjawab.
            “Hallo Nda”
            “Aku mau ketemu kamu sekarang di Cosa Cafe, cepat Chil”
            “Ada apa Nda?”
            “Dateng aja.” Pembicaraan terputus. Aku bergegas ke cafe. Aku merasa ada yang tidak beres. Sesampainya disana, aku lekas menghubungi Yunda. Yunda menyuruh aku ke meja di pojok dekat pintu masuk.
            “Ada apa sih? Kok kamu suruh aku cepat kesini?”
            “Aku lihat Dennis sama cewek lain Chil”
            “Dennis?” hatiku rasanya cukup hancur saat itu. Aku langsung meminta Yunda menunjukkan dimana Dennis. Yunda menarikku ke arah jendela. Dia menunjuk ke arah cafe yang ada di depan Cosa. Aku melihat Dennis tengah duduk sambil berpegangan tangan dengan seorang gadis yang aku tidak kenal wajahnya. Aku lekas beranjak dan menghampiri Dennis.
            “Hi Den” sapaku dengan mencoba tenang. Dennis terkejut, dia langsung melepaskan tangannya lalu berdiri melihat keberadaanku di depannya.
            “Childa? Kok kamu ada disini?” tanya Dennis dengan nada sedikit panik
            “Ini siapa?” tanyaku sambil mencoba tersenyum
            “Aku Janish, aku pacarnya Dennis. Aku dari Kalimantan, kebetulan kami hari ini 3 tahunan. Salam kenal” Janish menyalamiku. Dia tersenyum sangat manis. Tidak tega rasanya aku melihat kebahagiaannya harus aku rusak. Dia masih tampak sangat muda.
            “Aku Childa. Aku sahabatnya Dennis” Aku mencoba tersenyum walau hatiku cukup hancur saat itu.
            “Ini sahabat kamu ya sayang? Yang sering kamu ceritakan sama aku kan? Salam kenal kak Childa. Kamu itu sosok yang hebat loh di mataku. Aku dengar semua tentang kamu dari Dennis. Dan aku sangat termotivasi bisa menjadi seperti kamu kak” wajah gadis itu membuat aku semakin tidak tega.
            “Iya. Salam kenal juga Janish. Emm, Den aku duluan ya. Ada jadwal kuliah soalnya. Daa” aku menarik Yunda lalu pergi.
            “Childa, Chil tunggu. Nanti aku ke rumah kamu ya” Dennis menahanku
            “Kita urus nanti aja ya Dennis. Kalian kan lagi 3 tahunan. Nanti kita bicarakan lagi”
            Aku hanya bisa duduk diam. Di beranda kamar aku duduk sambil merasakan dinginnya malam menusuk tubuhku. Hati ini sakit rasanya, jauh lebih sakit dari kehilangan Ryan. Dennis sahabatku sendiri, yang aku kenal sejak kecil. Tega seperti ini denganku. Aku tidak bisa menangis lagi. Tiba – tiba Dennis datang.
            “Chil maafin aku ya. Aku udah bohong sama kamu. Aku juga nggak cerita tentang hubunganku sama Janish. Aku khilaf Chil. Aku benar – benar sayang sama kamu, selama dua minggu disini aku yakin aku ada perasaan lebih sama kamu. Aku sayang kamu, tapi aku juga sayang Janish. Aku bingung Chil kenapa aku bisa seperti ini. Aku nggak bisa tinggalin janish, aku sayang sama dia, aku cinta sama dia. Maafin aku Chil.”
“Cinta itu milik siapa saja kan. Walau perpisahan datang diantara kita. Itu cuman raga saja. Bukan hati kita. Hati kamu masih hidup disini. Meski kita tidak saling memiliki, tapi mencintai siapa saja itu hak semua orang kan. Aku udah maafin kamu. Kita memang di takdirkan untuk sebatas sahabatan aja Den. “
“Chil” Dennis memegang erat tanganku
“Aku bisa jauh lebih kuat sekarang Den. Terima kasih untuk cinta yang udah kamu kasi ke aku, dan terima kasih kamu udah kasi aku kesempatan merasakan indahnya di cintai sahabat sendiri. Aku tetap sayang kamu, sebagai sahabat aku. Dan malaikatku.”
“Kamu mau kan tetep jadi sahabat aku?”
“Tentu. Jaga dia baik – baik. Jangan pernah kecewakan dia yang selalu ada untukmu. Jangan kecewakan dia yang lebih mencintaimu. Aku disini bisa menjaga diriku Den. Menikmati lika liku dan sejuta rangkaian skenario Tuhan untukku. Setelah melewatinya bersama Ryan. Dan kini aku sudah menyelesaikan skenario aku dan kamu, tapi aku ingin mengulang skenario kita yang dulu. Menjadi sahabat”
“Terima kasih Chil. Kamu memang sahabat aku yang paling baik” Dennis memeluk aku erat.
Dari sini aku belajar artinya perjalanan cinta. Makna cinta dan banyak hal tentang cinta. Walaupun dalam hal cinta aku belum seberuntung yang lain. Tapi aku beruntung dengan bagian hidupku dari sisi lainnya. Aku bangga menjadi diriku, menjadi Childa dalam hidupku, dia dan mereka semua. Dan aku mengerti, tidak semua yang kita harapkan kita dapatkan, tapi Tuhan selalu berikan apa yang benar – benar kita perlukan.

Cerpen : @lia_coklat


DIA

Aku meniup-niup sebentar susu coklat yang baru aku buat, lalu aku meneguknya sampai habis. Dia tertawa. Ya dia selalu tertawa setiap kali aku melakukannya. Entahlah aku hanya tidak suka meminum susu yang sudah dingin. Jadi aku selalu menghabiskannya segera mungkin.

“Pelan-pelan Pi, aku gak akan mengambil jatahmu kok” ledeknya sambil tersenyum manis. Entah sudah berapa kali aku mendengar kalimat yang sama darinya.

“Siapa tahu?” kataku. Dan entah sudah berapa kali pula aku mengatakannya.

Dia kembali asik membaca bukunya. Dan aku kembali bad mood dibuatnya. Bagaimana tidak, hampir tiap malam dia datang kerumahku hanya untuk numpang baca buku. Huft. Membosankan memang. Tapi aku juga suka setiap ada di sampingnya. Walau tidak melakukan apa-apa.

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?” tanyaku bingung.

Dia menggeleng, melepas kacamatanya lalu meletakan bukunya diatas meja. Menatapku lembut. Ah, sial, kenapa tatapannya harus selembut itu? Aku menundukan kepalaku karena malu. bisa gawat kalau dia tahu aku tersipu karena senyumnya.

“Sudah malam, aku pulang ya?” katanya masih dengan senyum manisnya. Aku hanya mengangguk lalu mengantarnya sampai pagar.

Selalu seperti itu. Datang, meminum teh yang aku buatkan, membaca bukunya lalu pulang. Dasar Kin jelek ! Aku mengumpat dalam hati. tentu saja karena aku kesal. Tiga tahun aku meluangkan waktu dua jam di malah hari hanya untuk menemaninya membaca buku. Tiga tahun.

“Minggu siang temani aku mencari buku ya :) “

Itu sms dari dia. Kinatra Dewantara. Oh ya aku belum bilang, tiga tahun aku selalu menemaninya kesana kemari. Dan tentu saja aku tidak bisa menolak. Lebih tepatnya aku tidak ingin menolak.


--



“Pijar, maaf aku telat” katanya dengan nada menyesal. Aku tersenyum. Selama ini dia tidak pernah telat, dan ini adalah kali pertamannya. Jadi aku tidak akan marah.

“Tadi Ibu minta tolong untuk mengantarnya ke kantor ayah” jelasnya pada ku. aku hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Sebenarnya dia tidak perlu menjelaskannya padaku.

“Hei jangan marah, aku tidak bohong. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa telpon ibu” katanya lagi membuat tawaku pecah. Dasar bodoh. Aku tidak marah. Dan aku selalu percaya kata-katanya.

“Siapa yang marah? Siapa yang gak percaya?” tanyaku setelah berhasil menghentikan tawa.

“Kamu diam saja. Aku kira kamu marah.” Dia menatap mataku. Dalam.

Eh? Iya juga ya? Setiap kali aku marah, setiap aku ngambek padanya aku pasti mogok ngomong.

“Haha.. aku gak marah, serius. Kamu baru satu kali ngaret, mana mungkin aku marah sama kamu yang selalu sabar nunggu aku yang selalu telat setiap kali janji bertemu?” kataku sambil meninju lengan kirinya. Dia tersenyum. Manis

“Mau nyari buku apa ?” tanyaku ketika sampai di toko buku tempat dia biasa membeli buku.

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Mulai sibuk mencari buku yang dia cari. Karena kesal dicuekin aku pergi menuju tempat komik berjejer. Kami memang bagaikan langit dan bumi. Aku suka membaca komik, dia suka buku pelajaran. Apa saja, sejarah, geografi, kesehatan, bahkan matematika. Aku suka susu coklat, dia suka teh sedikit manis. Aku suka telat, dan dia suka on time. Kadang aku bingung kenapa dia malah memintaku untuk jadi pacarnya. Kenapa bukan Nada? Secara Nada punya banyak kesamaan dengan dia. Anehnya dia malah menolak Nada. Bodoh kan?

“Kanker bukan hambatan untuk bahagia?” tanyaku membaca judul buku yang dia tunjukan.


“Yup!” jawabnya semangat.

“Kayak kamu kena kanker ajah” kataku sambil tertawa kecil. Dia tersenyum. Bodoh kan? Dia membeli buku yang aneh lagi.

--





Dear Pi si gadis tukang ngambek, hehe.

Jaga diri ya Pi ? Sekarang aku gak bisa jagain kamu lagi, Maaf kalo kali ini aku ingkar janji

Maaf selama ini aku nyembunyiin tentang penyakitku. Aku gak mau buat kamu kecewa.

Selama ini kamu selalu menganggapku pacar yang sempurna.

Dan aku takut kamu kecewa saat tahu kalau aku penyakitan. Maaf ya?

Oya, waktu kamu bilang kamu pacar yang egois, tahu gak kenapa aku malah ketawa?

Itu karena kamu gak tahu betapa egoisnya aku Pi.

Hampir tiap malam aku kerumah mu, tapi aku malah asik membaca buku. Aku tahu kamu kesal karena kau cuekin, aku tahu. tapi aku tetap melakukannya. Aku egois kan?

Dan yang lebih egois lagi, tiga tahun lalu. kamu ingat hari dimana aku memintamu jadi pacarku?

Ya, sebelum aku memintamu jadi pacarku, dokter sudah bilang terlebih dulu padaku bahwa aku sakit.

kanker kelenjar getah bening.

Hahah egois kan? Aku tahu aku sakit. aku tahu aku bakal mati. Tapi tetap memintamu jadi pacarku.

Demi Tuhan aku menyesal Pi. Menyesal karena telah egois padamu. Maaf.

Semua itu aku lakukan karena aku ingin terus ada di samping mu. Tanpa pernah berfikir apa kamu juga ingin ada di sampingku. Aku egois. Ya, egois. Sangat.

Kamu boleh memakiku Pi, membenciku, melupakanku. Aku berhak mendapatkannya.

Dan aku ingin berterima kasih padamu.

Karena kamu mau menjadi pacarku, mau menemaniku membaca, selalu menyediakan Teh sedikit manis untukku tanpa diminta, mau menemaniku kemanapun.

Karena kamu selalu telat, setiap kali janji bertemu.

Kamu tahu, aku suka setiap kali menunggumu.

Aku suka melihatmu berlari kecil kearahku, melihat rambutmu yang bergoyang, melihat wajah bersalahmu karena membuatku menunggu.

Kamu lucu saat itu. Aku suka :)

Ah, sudahlah. Untuk apa aku menulis surat ini panjang lebar. Toh belum tentu kamu mau membacanya. Mungkin kamu akan merobeknya sebelum kamu baca. Ya kan?

Aku Sayang Kamu.

Kin.



Aku melipat surat yang kuterima dari Gia, adik Kin, lalu kembali kumasukan kedalam amplopnya. Menghapus air mataku. Mengambil fotonya yang ku pajang di atas meja belajarku. Mencium foto itu lalu meletakan kembali ke tempatnya. Si bodoh itu, malah membuatku tertawa dengan membaca suratnya. Dasar bodoh. Kin jelek yang bodoh. Mana mungkin aku membencinya. Mana mungkin aku melupakannya.

“Aku juga ingin selalu ada di sampingmu, Kin”.

Cerpen : @tiaaratieer

RASA INI


 “Ranasya Kiera.” Panggilan bu Henni untuk mengabsen murid-muridnya. Dan kelas hening ,tidak ada jawaban dari si empunya nama.
            Absen lagi. Gumam Bu Henni sambil menuliskan Alpha. Keterangan untuk murid yang 
tidak hadir sekolah tanpa keterangan.

***

            “Lu gila ya bolos lagi mau jadi apa lu ,cha? Lu udah tau Bu Henni tuh udah pasang status waspada sama lu,malah dipancing. Bentar lagi meletus tuh Bu Henni lu bikin. Ck!” rentetan omelan keluar dari mulut Gita,setibanya ia dirumah sahabatnya itu.
            Sementara acha ,begitu nama panggilannya, hanya cengengesan melihat sahabatnya itu. “ahelah Git lu bawel banget serius deh. Kan gue gaenak badan Git, kepala gue sakit lagi nih,lu ih kerjaannya negative thinking mulu ke gue. Udah kelas 3 nih Git ga bakal lah gue cabut karena malesan.”
            “gue udah tau lu banget acha. Dari SD lu udah gini nih kelakuannya. Males.” Masih saja Gita melanjutkan omelannya. Bukannya apa apa,tapi Acha itu udah jadi kayak target operasi banget deh di sekolah. Suka bolos gitu. Alasannya sakitlah ,telat bangunlah ,ada aja. Sebagai sahabat Gita pengen ngingetin aja sih biar dia gak banyak ketinggalan pelajaran.

            “udeeh ah,yuk makan yuk. Belum makan kan lu? Masak mie yuk,ayolaah” dengan cuek Acha menarik tangan Gita untuk turun ke dapur.

            “lu sih ngeyel cha. Yaudah deh” akhirnya Gita pun menyerah dan berdiri.
            Entah hanya perasaannya saja,tapi hari ini wajah Acha terlihat berbeda. Sedikit.. pucat? Ataukah habis menangis?

***

            “hey ,Ka udah sampe rumah ya? Kamu kenapa malem banget,Ka? Sapa Acha saat telepon di seberang sana diangkat.
            “iya nih tadi asik aja mainnya sama anak anak.” Singkat padat. Tepat sesuai yang ditanyakan.

            Tidak terkejut. Sudah terlalu terbiasa. “iya Ka yaudah istirahat aja ya. Ka ,tadi kan acha belum masuk juga,………..”  seperti mencoba peruntungan,Acha mencoba memulai topik.

            sayangnya ,gagal. Belum selesai Acha bicara , Raka sudah menjawabnya ,”Acha,Rakanya ngantuk banget. Tidur duluan,ya?”
            Crap ! bukan sedih lagi yang terasa di hati nya. Tidak ada lagi ruang untuk itu. Hanya sekilas dia tersenyum. Pahit. “oh iya Ka,nice dream ya. Dadah”
            Dan telepon pun ditutup. Oleh Raka. Kekasihnya.

***

            Sambil bernyanyi pelan, Acha melangkahkan kakinya ringan di koridor sekolahnya. Semangat pagi kalo kata iklan-iklan. Di kelas,seperti biasa,Acha yang pertama dateng. Unik kan? Tukang bolos tapi kalo giliran sekolah dia jadi yang pertama dateng.
            Tak lama, beberapa temannya mulai berdatangan dan mengobrol di dalam maupun luar kelas. Tak lama terlihat Gita berjalan bersama Dito,anak kelas IPA.
            Dito. Dulu waktu pertama masuk sekolah Acha pernah akrab sma Dito. Dito itu baik. Baik banget. Tapi karena jadian sama Raka dan Raka sangat tidak suka Acha akrab dengan cowok,perlahan Dito menjauh.
            Saking asiknya mengingat kenangan dulu, Acha sampai tidak sadar Gita sudah ada di depannya. “hey ! ngelamun aja lo pagi pagi nih cha,dasar”
            “hahaha apaan sih lo ah berisik tau gak. Gue lagi menikmati saat saat lamunan gue nih. Bentar lagi pelajaran Pak Wardi ,doi killer kan you know la.” Acha melanjutkan kembali duduk sambil tersenyum sendiri sementara Gita manyun dan masuk ke kelasnya,di sebelah kelas Acha.
            Perlahan setelah Gita pergi,senyum di wajah Acha itu memudar. Dan hilang.

***

            Ka,disini hujan. Aku gak bisa lihat bintang,Ka. Sama kayak sekarang,aku gak bisa liat kamu.Lagi apa,Ka? Aku kangen…. Pengen ketemu,Ka.
            Dan kali ini ,Acha menangis.

***

            Raka dan Acha pacaran jarak jauh. Bahasa kerennya sekarang sih LDR-an. Awalnya terasa biasa,mudah. Asalkan ada cinta itu cukup. Cukup untuk mempertahankan suaturelationship. Tapi,melewati 3 tahun ,semakin lama dijalani,makin menyadarkan Acha. Cinta saja tidak pernah bisa cukup. Selalu ada saat-saat dimana ada semacam dorongan dari dalam dirinya untuk merasakan kehadiran nyata. Real. Bukan melalui visual,ataupun dunia maya. Tapi setiap Acha ingin menyudahi ada perasaan yakin yang secuil muncul lagi ,terus begitu. Sampai akhirnya niat itu ter-urungkan.
            Belum lagi Raka. Sikapnya. Raka itu orangnya cuek. Jadi terkadang Acha ngerasa,Raka itu kayak ga ngarepin lah ada nya dia.
            Semakin lama semakin sulit saja. Hal itulah yang perlahan mengubah Acha menjadi seorang yang pendiam dan tertutup. Bahkan kepada Gita.

***

            “Acha,lu hari ini kemana,gue bete ih pengen main dong kerumah lu. Boleh gak?” belum belum,minggu pagi Acha sudah diributkan dengan telepon dari Gita.

            “yaudah dateng deh buruan. Si mama masak nasi goreng nih. Cepetan lu,kalo ga ntar gue abisin” ancam Acha.

            “sebenernya gue udah sarapan sih,tapi gue pengen deh. Sisain ya,cha. Awas lu kalo diabisin gak gue bantuin ngeles lagi lu kalo bolos” sekarang malah Gita yang mengancam.
            Acha nyerah, “iyaa bawel,dadah.” Acha langsung menutup teleponnya sebelum mendengar ocehan nyaring Gita lagi.

***

            “kamu tuh udah dibilang baru nyampe rumah kan jangan langsung telepon dulu. Raka capek banget nih,cha. Kenapa sih jadi orang tuh ga ngertiin banget.”
            Dibentak lagi. Kali ini tak bisa ditahan,Acha menjawab. “tapi kita kan  hari ini ga ada telponan kali,Ka. Apa salahnya sih. Aku juga telpon Cuma sebentar kan,Cuma sekalian pengen dengar suaranya aja,Ka. Kangen kali. Aku tuh ga ada di dekat kamu,Ka. Wajar kan!” Acha menjawab dan langsung menutup teleponnya.
            Belum sempat airmatanya jatuh,terdengar panggilan Gita dari depan kamarnya.

            Sambil memasuki kamar Acha, Gita rebut seperti biasa “soorryyyy gue telat ya,,tadi mama tuh nyuruh aku beli bahan kue di tokonya Bu joko. Katanya mau nyoba menu baru gitu deh”. Tapi, cerocosan Gita berhenti menyadari Acha kelihatan tidak fokus. Sambil mencoret coret kertas,Acha berkata pelan “ntar bagi ya kuenya,gue pengen juga tuh nyobain eksperimen nyokap lu,haha” 

            “ih kirain mau bilang apaan. Lagian bilang gitu doang pake segala syahdu gitu. Sengaja nyari moment lu ya,haha” dan mereka pun tertawa.
            Tertawa ngakak di bagian Gita. Dan tawa….. dengan jatuh setetes airmata di bagian Acha yang langsung secepatnya dihapusnya.

***

            “kenyaaaaang,asli ya nasi goreng masakan nyokap lu ga ada tanding ga ada banding deh Cha.”
            “sama aja juga sama nyokap lu. Bedanya nyokap lu tuh hobinya kue ,Git.”
Entah kenapa tiba-tiba Gita pengen aja gitu nanya, “lu gimana sama Raka ,Cha?”
            Pertanyaan yang tiba-tiba tapi menyentak. Sejenak terdiam, akhirnya Acha bercerita. Tentang dia dan Raka yang mulai “dingin”. Tentang Raka yang cuek. Semuanya yang lama dia simpan sendiri.

***

            Sms masuk.
Sender : Raka♥
            yang,lagi ngapain? Kangen”
Singkat tapi terasa hangat. Jarang jarang Raka bilang “yang” . dan… “kangen” ? pengen lompat lompat rasanya. Cepat , Acha mengetik sms balasan.
            “acha lg ntn aja. Kangen jg,Ka”
Sambil tersenyum, Acha menunggu balasan Raka. Akhirnya Raka luluh juga sama kesabaran aku. Akhirnya ,makasih Tuhan.

Sender : Raka♥
            “kangen kan cha? Kalo kangen kita bisa apa cha? Ga bisa apa apa kan? Justru hal ini cha yang bikin aku ngerasa apa yg kita jalanin tuh,percuma cha.”
Apa apaan ini ! tersiram air beku rasanya , Acha kalap. Dia mencoba menelpon Raka. Tidak diangkat. No answer? Try again? Yes. Tidak jga dijawab. Try again? Yes. Akhirnya telepon itu diangkat.
            mereka sama sama terdiam, sampai Raka berbicara, “Cha? Jangan nangis. Aku juga gak mau kayak gini. Tapi kalo kita pertahanin adanya aku nyakitin Cha. Aku gak mau. Aku gak kuat LDR-an lagi Cha. Please ,maafin.” Suara Raka yang biasanya tegas ,malam ini parau. Mengilukan hati mendengarnya.
           
Acha masih menangis. Suara ini membuatnya terus merindu. Raka. Tidak bisa hanya seperti ini,batinnya.
            “tapi kita pasti bisa,Ka. Kenapa sekarang gak yakin?”
            “kamu bisa,Cha. Tapi aku enggak lagi” ,pelan kata itu terucapkan. Pelan tapi tetap terucap. Tapi sepelan apapun kata itu terucap,tidak akan mengubah apapun lagi. Tidak ada yang lebih menyakitkan ,melepaskan sesuatu yang tidak ingin dilepaskan.
            “aku ikut aja ya ,Ka. Aku terserah aja. Udah dulu ya Ka.”
Tanpa kata pisah atau apapun lagi, terputuslah pembicaraan itu. Seiring dengan berakhirnya 3 tahun lebih mereka bersama. Dengan airmata, acha mencopot sim card nya dan mematahkannya. Habis sudah.

***

            Dikelas Acha sibuk memberitahu teman temannya nomor barunya. “iya nih aku nomor baru,save ya!”
Mata bengkak,bawahan mata hitam. Wajah pucat. Rasanya sudah cukup ini semua. Mungkin emang gak bisa dilanjutin. Percuma aku maksain keadaan juga. Kita emang jauh,Ka. Jauh…….

Cerpen : @aarfahsita

  • Cinta Monyet atau Cinta Sejati?
    sebelum kalian membaca cerpen ini, saya hanya ingin mengucapkan beberapa patah kata, hehehe…ini adalah cerpen pertama yang benar-benar selesai kutulis, mempunyai ending. sebagian isi cerita ini adalah nyata, sebagian~ hohoho…mungkin ada diantara kalian yang pernah mengalaminya? ntah lah…maaf apabila tidak sebagus perkiraan kalian, aku baru saja memulainya…hehehe selamat membaca :)
    “Jadi anak baru emang ga enak! Berasa jadi seleb sehari, kalo lagi jalan ‘semua mata tertuju padamu’ semua orang nanyain tentang lo, darimana asal lo, dan lo kelas berapa, pasti, tradisi klasik. Gue ngga suka jadi anak baru, ribet!” tulis Anita di dalam blognya.
    Anita Clarissa, akrab dengan panggilan Anita, seorang murid baru di SMA Glory.
    “Nama gue Anita Clarissa, biasa dipanggil Anita, gue pindahan dari SMA Harapan Depok, senang bisa ketemu kalian, mohon bantuannya” kata Anita memperkenalkan dirinya didepan kelas.
    Semua anak yang berada didalam kelas mengangguk mendengar salam perkenalan dari Anita, ntah apa artinya anggukan mereka.
    Anita lalu memutuskan untuk duduk di depan, bersama dengan Rhila Setiawan.
    “Hai, gue Rhila, Rhila Setiawan, salam kenal ya, moga-moga lo betah sekolah disini, hehehe” kata Rhila memperkenalkan dirinya.
    “Kayaknya anaknya asik deh” pikir Anita.
    Anak baru emang selalu jadi hot news disetiap sekolah, selalu jadi seleb sehari. Dan itu yang Anita rasakan, apalagi di SMA Glory yang termasuk salah satu SMA terbaik di Jakarta. Kabar memang sangat cepat tersebar disekolah ini.
    Hari pertama Anita berjalan baik, dia mendapatkan banyak kenalan baru yang satu per-satu mulai menjadi temannya. Salah satunya Rhila dan Santi.
    Masa jadi seleb sudah habis, semuanya kembali seperti biasa.
    Hari demi hari berlanjut, pertemanan ketiganya mulai lebih akrab sehingga dapat disebut sebagai sahabat.
    Tidak terasa satu tahun sudah berlalu, lewat sudah tahun mereka sebagai Junior, sekarang mereka sudah beranjak  ke kelas XI.
    Tiga sahabat ini ditempatkan di kelas yang sama, XI IPA 2. Mereka juga bertemu dengan teman-teman baru. Termasuk bertemu dengan Alfian Ramadhan, cowok tinggi dengan sifat yang easy going dan sedikit menyebalkan.
    Sejak awal semester, Anita, Rhila dan Santi mendapat sahabat-sahabat baru. Termasuk Sherly cewek local yang tomboy abis.
    ***
    Di kelas XI IPA 2, Anita bertemu banyak teman baru, termasuk cowok yang bernama Alfian Ramadhan. Awal pertemuan mereka biasa saja, tapi semakin hari mereka semakin sering bertengkar, tetapi akrab, SMS-an bahkan ga jarang telfonan. Waktu itu Rrama pernah nelfon Anita, tujuannya untuk nanyain tugas Bahasa Indonesia,
    Rama: Halo nit
    Anita: kenapa Ram?
    Rama: mau nanya tugas bahasa Indonesia dong gue, lo bagaimana? Nyatet ga?
    Anita: nyatet, kenapa emang? Lo beloman?
    Rama; iyaa, sebutin dong, yayaya, cepetan, gue ga ada pulsa nih
    Anita: *ga punya pulsa kok telfon?* iyaa bentar, ini lagi gue ambil
    Anita: nih *menyebutkan jawabannya*
    Rama: ohh okeoke, thanks yaaa, makasih banget lo nit, wkakaka lo emang baik deh, eh yaudah ya, pulsa gue abis nih, haha bye
    Anita: iyeee…
    Baik lewat handphone ataupun bertemu langsung, mereka akrab. Sangat akrab.
    Bukan cuma Anita yang jadi teman berantemnya Rama, ada juga Rhila, Santi, Sherly dan Ana. Mereka berlima suka banget dijailin sama Rama dan membalas semua kejailan Rama. Itu mereka lakukan hampir setiap hari di Sekolah.
    Rama…begitu semua murid dan guru memanggilnya, orang yang asik, gaul,slengean, kocak, aneh. Otaknya juga lumayan ‘berisi’ apalagi Rama juga jago main alat musik, kayak gitar dan bass, dia juga jago olahraga terutama basket, postur tubuhnya pun tinggi.
    ***
    Awal semester satu – sampai akhir semester 2 mereka (Anita & Rama) jadi akrab banget, Anita ngga pernah nyangka kalau dia bisa akrab sama orang yang seperti Rama.
    Menjelang akhir semester 1 Anita mulai ngerasain perasaan yang berbeda kalau dia deket sama Rama, tapi sayang waktu itu Rama udah punya pacar. Jadi Anita berusaha untuk melenyapkan perasaannya. Sedikit demi sedikit perasaan itu hilang, sangat sulit untuk Anita menghilangkan perasaan itu. Ini pertama kalinya untuk dia. Pertama kalinya dia merasakan perasaan seperti ini, perasaan sulit untuk menghapus sesuatu, menghilangkan bahkan melenyapkannya.
    Menjelang semester 2, Rama putus dengan pacarnya, hal ini membuat perasaan Anita kembali tumbuh, harapannya kini menerang.
    -Sender: Anita
    -Recipient: Rama
    Message: Cieee kannn yang putus! Wkakaka jomblo nih yeee :p
    -Sender: Rama
    -Recipient: Anita
    Message: hahaha, sialan lo nit! Gue sih ngga jomblo, tapi single, yang jomblo mah elu! Wkwkw :p
    -Sender: Anita
    -Recipient: Rama
    Message: sial -_- gue single yeee, pantesan aja diputusin, lo nyebelin sih wkwkwk
    Ya Allah semoga Rama cepet dapet yang baru, ya Allah O:)
    -Sender: Rama
    -Recipient: Anita
    Message: Hahaha :p Ya Allah, kirimkan jodoh untuk Anita Ya Allah, kasiani dia, jomblo terus Ya Allah, amin
    -Sender: Anita
    -Recipient: Rama
    Message: RAMAAAA!!! Aaaaaaa amin deh -_- wkakakak, udah ah gue tidur duluan ya ram, bye, see you tomorrow.
    -Sender: Rama
    -Recipient:  Anita
    Message: hahaha iyaa, okeoke, see you…
    Mereka tetap akrab, menjadi sangat akrab malahan. Sedikit demi sedikit Anita mulai memahami dan mengenal sifat Rama, apa yang ia sukai atau apa yang ia tidak sukai.
    ***
    Hari ini pelajaran cukup santai.
    “Untung aja hari ini, nyelaw, hahaha” kata Anita kepada teman-temannya. Teman-temannya sontak mengangguk bersamaan.
    Jam pelajaran pertama-pun sudah berakhir, ditandai dengan bunyinya bel. Pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Inggris. Pada saat pindah jam pelajaran, keisengan Rama-pun dimulai. Dia lalu dengan sengaja menarik rambut Anita, sehingga Anita hampir kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke belakang. Anita-pun meringis kesakitan sambil memegangi rambut bagian belakangnya.
    Melihat Anita terpaku ditempatnya, Rama lalu merasa bersalah dan mendatangi Anita dan  mencoba untuk meminta maaf.
    “Yah, nit, maafin gue ya, sakit ya emang? Nit? Nitaaa? Maaf ya.” Kata rama setengah merengek.
    Rama melingkarkan tangannya ke punggung Anita, Anita bisa merasakan hangatnya nafas cowok itu ditelinganya. Ia juga bisa merasakan bahwa jarak wajahnya dan wajah Rama sangat dekat.
    Anita tetap tidak menjawab, sementara Rama tambah panic, kini mereka sudah dikelilingi teman-teman yang lain.
    “Hayoloh Ram, lo apain tuh, anak orang?” kata salah seorang teman.
    “Yee Ram, lo apain tuh temen gue?” kata Rhila, Santi dan Ana ikut-ikutan ngomong.
    “Ayoo Rama, tanggung jawab yee” ceplos Sherly.
    Anita sebenarnya hanya berpura-pura menangis. Walau sedikit malu tapi dia sangat senang. Hatinya berdebar kencang, membuat darahnya terpompa dan mengalir dengan cepat. Dia juga bisa merasakan kalau pipinya memerah, apalagi orang yang mengerumuni mereka terus bertambah banyak.
    Sesegera mungkin, Anita menata perasaannya, menormalkan nafas dan detak jantungnya. Anita lalu kembali berdiri tegak, dengan sedikit menmberontak, Ia melepaskan rangkulan Rama.
    “Sakit bego! Ahelah Ram, galucu!” bentak Anita dengan gaya khasnya.
    Rama berada tepat didepannya, sambil menyunggingkan senyum ‘menggoda’ yang aneh, khas Rama. Anita juga melihat teman-temannya yang sedang menatap Anita dengan tatapan aneh, beberapa tersenyum ‘nakal’ seperti Rhila, Santi dan Ana.
    Anita lalu menghampiri Rama dan langsung menjambak rambutnya, Rama-pun meminta ampun,
    “Aaaa…ampun Nit, maaf, aduhh sakit, gila lu nit, sakit nit, nit please,” kata rama merengek,
    Akhirnya setelah puas menjambak rambut Rama, Anita kembali ke kursinya, meninggalkan Rama di depan kelas yang masih memegangi kepalanya sambil meringis kecil.
    Tidak lama kemudian, Bu Dorrette, guru Bahasa Inggris mereka masuk ke kelas dan pelajaranpun berlangsung.
    Satu jam berlalu, bel-pun berbunyi, menandakan berakhirnya pelajaran sekaligus menandakan jam istirahat segera dimulai. Semua anak lalu berhamburan keluar kelas, menuju kantin.
    Anita, Rhila, Santi dan Isra berjalan ke kantin,
    “Cieeeee, yang tadi pelukan sama Rama,” goda Rhila, yang lain pun ikutan menggoda Anita tentang kejadian tadi,
    “Hahaha iyaa, kalian kayak pelukan tau” timpal Ana,
    Lalu disusul oleh Isra “Kayak sinetron aja kalian berdua, tadi,”.
    “Apaan sih, please deh…” kata Anita menyangkal, “Eh, tapi emang iya? Tadi dia kayak meluk gue?? Serius?? Hahahah” lanjut Anita,
    Rhila, Santi, Ana dan Isra lalu menagngguk dan kemudian tertawa secara bersamaan.
    “Nih tadi kalian tuh kayak gini, nih,” kata Santi sambil memperagakan adegan tadi bersama Ana. Melihat itu Anita hanya tersenyum geli.
    “Cieee, seneng tuh pasti, ntar bajunya ngga dicuci-cuci deh, tadi juga kepalanya dielus-elus, pasti ga bakalan keramas nih anak,” goda Ana, yang lain tertawa terbahak-bahak,
    “Apaan sih, lebay lu semua, kaga lah, jorok banget gue hahaha, gue biasa aja kali~” bantah Anita,
    “Alah, seneng aja pake ga ngaku segala lu nit, ngga ada yang marah ini kan? Wkakaka” tambah Rhila, membuat pipi Anita memerah.
    Jujur saja, Anita memang senang dan Ia juga tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini.
    Hari demi hari terlewati, minggu demi minggu dan bulan demi bulan, tidak terasa ujian akhir semester sudah didepan mata, semuanya sibuk belajar.
    ***
    “Hahaha, gue seneng bisa pindah ke sekolah ini, awalnya agak males, tapi ternyata asik, apalagi gue punya banyak sahabat disini, bisa ketemu banyak teman baru dan…Rama tentunya, cowok yang konyol, ga bisa diem dan agak sedikit aneh itu bikin gue suka sama dia, hahaha makin sering ketemu dan bercanda bareng, gue makin suka sama dia, mungkin gue sayang Rama” begitulah isi tulisan Anita di tumblrnya.
    Mereka memang dekat, tapi hanya itu. Tidak lebih, balasan-balasan sms dari Rama sudah cukup membuat  Anita senang.  Ia takut untuk meminta lebih. Ia tidak ingin semuanya berubah ketika rahasia kecilnya ini terbongkar, oleh karena itu soal Anita suka sama Rama, cuma sahabat terdekat aja yang tau.
    Semua sahabatnya bertanya, selalu dengan topik yang sama dan pertanyaan yang persis.
    “Kenapa lo bisa suka sama Rama?”
    “Kenapa Rama? Orangnya aja kayak gitu nit, Ya Ampun,”
    “Liat apanya sih nit? Dari seorang rama?”
    Pertanyaan yang terus menerus ditanyakan padanya, tetapi Anita hanya mampu menjawab
    “Gatau deh, gue sendiri bingung, kalau ngomongin soal cowok idaman, yah dia masuk sih, tapi ada sesuatu, gue gatau deh, intinya gue suka sama dia! Hahaha, mungkin gue udah sayang sama dia, mungkin.”
    ***
    Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa mereka sudah naik ke kelas XII,Senior Year.
    Pas liburan, Anita masih smsan sama rama, masih akrab kayak tahun lalu. Pernah sekali waktu Anita lagi jalan di mall, hpnya berbunyi dan ternyata itu telfon dari Rama.
    Anita: Halo? Kenapa Ram?
    Rama: *suaranya kurang jelas*
    Anita: Hah? Apaan si Ram?
    Anita: Ram??? Aduhh gajelas bangget sih
    *telfon ditutup*
    “Yehh„ kesambet kali ye, ni anak, gajelas dasar,” kata Anita,
    “Kenapa nit?” Tanya Febi sepupu Anita,
    “Ah? Eehheh ngga kok, gapapa” jawab Anita salting.
    ***
    Tidak terasa, waktu untuk kembali bersekolah sudah didepan mata. Dengan berat hati semua meninggalkan masa liburan mereka dan mempersiapkan diri untuk kembali ke rutinitas.
    Anita tidak ingin melewatkan hari pertamanya masuk sekolah, Ia sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengan sahabat dan teman – temannya, juga Rama.
    “Rama mana nit?” Tanya Helena.
    Helena adalah anak baru yang masuk kelas XI tahun kemarin, dia juga mantan pacarnya Rama waktu SD.
    “Hah? Kok nanya gue sih? Mana gue tau-lah,” jawab Anita.
    “Lah? Bukannya lo pacarnya Rama nit?” tambah Helena
    Anita langsung menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Helena.
    Desas desus yang beredar semakin membuat Anita risih dan jenuh. Kini beredar gosip bahwa dia dan Rama pacaran. Biang gosipnya tidak lain, tidak bukan adalah Helena, dibantu juga dengan teman sekelas mereka Kevin. Gosip tersebut-pun mulai menyebar ke seluruh kelas XII, bagaikan mobil balap yang berpacu pada lintasannya, sangat cepat.
    Sampai 5 hari mereka masuk sekolah, Rama belum juga masuk. Tezar (sahabat Rama) bilang, bahwa Rama sakit. Mendengar hal itu, sepulang sekolah Anita langsung mengirimkan sms ke Rama.
    -Sender: Anita
    -Recipient: Rama
    Message: Ramaaa, kok belom balik? Kenapa? Katanya sakit?
    -Sender: Rama
    -Recipient: Anita
    Message: Iya nih, gue sakit nit…
    -Sender: Anita
    -Recipient: Rama
    Message: :O seorang Rama? Sakit? Haha, sakit apa emangnya?
    -Sender: Rama
    -Recipient: Anita
    Message: Yeh nit, gue kan hanya manusia biasa…haha DBD L
    -Sender: Anita
    -Recipient: Rama
    Message: Hahaha, yah terus gimana? Udah baikan?
    -Sender: Rama
    -Recipient: Anita
    Message: Udah kok, hehehe ini juga udah keluar dari rumah sakit J
    -Sender: Anita
    -Recipient: Rama
    Message: oohh yaudah deh, bagus kalo gitu…hmm istirahat deh sana, ntar sakitnya kambuh, haha cepet sembuh ya Ram :D
    -Sender: Rama
    -Recipient: Anita
    Message: hahaha ternyata lo orangnya perhatian juga ya nit J haha iyaiyaa,thanks yaa
    -Sender: Anita
    -Recipient: Rama
    Message: hahaha baru tau? :p sipp sama-sama yaaa~
    -Sender: Rama
    -Recipient: Anita
    Message: hahaha…
    ***
    Anita masih menyukai Rama, masih menyayanginya dengan perasaan yang sama. Yang tidak berubah sedikitpun.
    Seminggu berlalu, Rama akhirnya masuk sekolah, Anita senang. Dari awal Ia juga tau kalau Rama akan masuk sekolah hari itu. Mereka masih sms-an. Namun, ada yang berubah dari Rama, dia jadi menjauh dari Anita, sifatnyapun berubah menjadi ‘dingin’.
    Anita bingung dan sedih sama semua perubahan Rama, Ia lalu mencoba untuk bertanya kepada sahabat Rama yang juga teman baiknya, Dito.
    “Dit, Rama kenapa? Tanyain dong?” pinta Anita, dengan sedikit memelas
    “Iya, tapi menurut lo kenapa?” Tanya Dito.
    “Karena gossip murahan yang ada, yang bilang gue sama Rama pacaran!” jawabnya sedikit emosi.
    Dito hanya mengangguk mendengar perkataan Anita.
    Dito bukan teman baru untuk Anita, mereka sudah mulai akrab waktu kelas XI.
    Tahun ketiga Anita, tidak seindah apa yang ia bayangkan. Gossip yang terus beredar membuat hubungan Anita dan Rama semakin menjauh. Kini, terbentang jarak yang cukup jauh antara mereka. Bayangkan saja, mereka berada dikelas yang sama, tapi tidak pernah berbicara satu sama lain, bahkan untuk berada dijarak yang dekatpun mereka enggan. Anita juga ikut menjauhi Rama.
    ***
    Semester 2 kini menanti, tahun sibuk-sibuknya semua murid kelas XII.
    Rama berubah total, begitu juga Anita,
    “Eh, Rama balikan sama Helena ya?” tanyanya kepada sahabat-sahabatnya.
    “Kayaknya sih nit, hmm” jawab Ahadya.
    Anita tidak bisa menahan air matanya, Ia terlalu rapuh untuk hal yang satu ini, emosinya bercampur aduk, antara marah, sedih, kesal dan lain-lain. Dengan sigap, sahabat-sahabatnya memeluknya, di pelukan sahabat-sahabatnya Anita menangis lebih kencang.
    “Gapapa nit, nangis aja,” kata Kartika.
    Sejak kabar itu didengar oleh Anita, Anita jadi suka nangis dan galau mikirin Rama,
    “Ini tuh, gara – gara Helena! Ihh nyebelin!! Dia tuh ngejilat ludahnya sendiri tau ga?? Katanya dia ga akan balikan sama Rama, ternyata?? Dasar!” emosi Anita meledak,
    Tapi apa yang bisa Ia lakukan? Itu semua sudah terjadi, dia hanya mencoba untuk menerima dan mengikhlaskan semuanya. Untungnya sahabat – sahabatnya selalu berada disampingnya. Ditambah lagi Dito.
    ***
    Tinggal beberapa bulan lagi mereka menghadapi UN. Anita sudah jarang memikirkan Rama lagi, karena Ia menyukai Andre.
    Setiap malam, sehabis pulang dari bimbingan belajar Anita selalu diantar oleh Andre, karena arah rumah mereka sama, hanya berbeda beberapa blok.
    Setiap ada bimbingan malam, Anita, Dito dan Ahadya selalu menyempatkan waktu untuk saling curhat, kadang menggalau bareng.
    Ga jarang Andre membuat Anita nangis, terkadang Anita masih sering menangisi Rama.
    Setiap kali dirinya nangis Dito selalu mengejeknya,
    “Ah, cengeng lu nit! Gitu aja nangis, dasar…butuh pundak buat nangis ga?”
    Ahadya dengan sedikit tertawa jijik dan lalu memukul Dito, tangisan Anita berhenti. Dua orang ini adalah orang yang paling mengetahui perasaannya sekarang-sekarang ini.
    ***
    Di dalam hati kecilnya, masih ada tempat untuk Rama, tempat yang cukup luas dan cukup menyakitkan untuk Anita. Ia sendiri merasa sangat bodoh dan aneh, sudah disakiti sampai sebegitunya, tetap saja.
    Suatu malam, Anita bbm-an sama Rama, tiba-tiba Rama mengirimkan sesuatu yang membuat leher Anita tercekat, tidak dapat berkata-kata, bernafaspun sulit.
    Isi pesan yang menghantuinya.
    Didalam pesan itu, Rama bilang “Your love is useless for me…” dan kalimat terakhir “maybe we can just be a friend? J
    Anita membalasnya
    “Apaan sih Ram? I like you once, but now? Not anymore, its so last year” Anita berbohong, bohong sama Rama dan dirinya sendiri.
    ***
    Tidak jarang Rama ikut bimbingan belajar malam, bimbingan belajar itu memang dikhususkan untuk anak kelas XII. Anita bertemu dengan Rama, tapi tetap dengan sikap yang dingin, tak saling menyapa bahkan tak saling menganggap satu sama lain.
    Anita dan Helena masih berhubungan baik, masih berteman. Anita tidak ingin menyalahkan Helena lagi atas hubungan mereka, karna mungkin memang bukan salah Helena, mungkin. Tidak jarang Anita dan Helena main ‘ceng-cengan’.
    “Masa Rama aneh banget deh ni, pas si Helena ngecengin lo, Rama ga ketawa, tapi pas lo ngecengin Helena? Rama ngakak! Aneh ya, atau jangan-jangan…” kata Ahadya.
    “Apaan sih kebo? Ngga lah, perasaan lo aja kali, hahaham udah ah! Ntar gue galau lagi,” potong Anita cepat, Ia tidak ingin keGRan, Ia sedang berusaha melepaskan perasaannya. Meniup jauh perasaan itu, membuatnya terbang entah kemana.
    ***
    Tidak terasa, UN-pun selesai. Pada saat hari terakhir dilaksanakan semua anak berdoa dan berdoa. Pada saat UN hari terakhir selesai, semua anak berhamburan keluar ruang ujian dengan muka dan perasaan lega dan senang. Mereka lalu merencanakan kegiatan selanjutnya dan selanjutnya.
    Beberapa hari kemudian, siswa kelas XII sibuk membicarakan Buku Tahunan, Perpisahan dan juga Senior Party.  Anita termasuk kedalam anggota inti buku tahunan dan Senior Party.
    “Oke! Buku tahunan is DONE!” kata Anita lega, teman-teman sesama anggota pengurus juga lalu bersorak-sorai.
    “MEMORIES OF PARBUSA GASIRESK” (judul buku tahunan mereka).
    Acara perpisahan juga berjalan lancar, tidak ada hambatan. Semua berjalan sesuai rencana. Rama, Glen dan Pras menjadi salah satu pengisi acara perpisahan itu. Tiba saatnya untuk makan, setelah itu acara bebas. Pada saat acara bebas, anak-anak sibuk berfoto-foto-ria, mengabadikan penampilan mereka yang sangat berbeda dari keseharian mereka.
    Anita sendiri memakai terusan panjang berwarna violet, tatanan rambutnya juga berbeda dari biasanya, kakinya dihiasi dengan sepatu wedges yang tidak terlalu tinggi berwarna netral. Yang lain juga memakai terusan, yang cowok memakai setelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu yang formal.
    “Eh, gue mau foto sama Rama dong, temenin” minta Anita kepada Santi, akhirnya Santi mengikuti kemauan Anita.
    “Eh Ram, foto dong sama Anita,” kata Santi,
    Akhirnya Anita dan Rama befoto bersama,
    “Ciee, awasss ada yang lagi foto pra-wedding nih, haha”
    Semuanya juga ikut berkata seperti itu. Malam yang menyenangkan bagi mereka semua. Rasanya semua kerja keras mereka terbalas, dengan diberikannya sebuah plakat, tanda lulusnya mereka.
    ***
    (Senior Party)
    Percaya atau tidak, perasaan Anita masih utuh untuk Rama. Tidak berubah sedikitpun, bahkan sampai waktunya senior party tiba.
    Sebelumnya dia mengetahui bahwa Helena dan Rama sudah putus, ada senyum kemenangan yang menghiasi wajah Anita, saat ia mendengar berita itu. Ia merasa sangat jahat, tapi Ia juga tidak bisa memungkiri bahwa Ia senang.
    Senior party mereka berjalan sesuai rencana. Rama, Glen, Pras dan Michelle mengisi acara dengan menyanyikan beberapa lagu. Pada saat semua mengantri untuk mengambil makanan, Rama is back on stage, sekarang dia akan berduet dengan Brenda. Jenis suara bassnya sangat khas, tidak bisa dibilang bagus, tapi cukup enak untuk didengar. Mereka menyanyikan lagu “Lucky” dari Jason Mraz ft Colbie. Cukup untuk membuat Helena cemburu.
    Senior party-pun berakhir, sesaat setelah sampai di rumah, Anita langsung mengirimkan pesan ke Rama, mengenai penampilannya tadi. Jadilah mereka bbm-an lagi.
    ***
    (Hari-Hari terakhir di Jakarta)
    Pada hari-hari terakhirnya di Jakarta, Anita mempunyai ide gila, Ia ingin mengajak Rama untuk jalan, bareng sama Santi dan Tezar yang saat itu lagi pacaran. Rama-pun setuju dengan hal itu.
    Perjalanan yang aneh. Harusnya Anita berjalan berpasangan dengan Rama dan Santi sama Tezar. Tapi malahan Anita berpasangan sama Santi dan Tezar dengan Rama.
    Hari terakhir Anita berada di Jakarta bertepatan dengan hari ulangtahun Hana, mereka lalu berpisah, Anita dan Santi langsung ke rumah Hana. Di rumah Hana mereka janjian sama Rhila, Cintya, Isra dan yang lainnya. Kompltannya Rama juga datang.
    Ulangtahun yang cukup meriah, dan farewell party yang mengharukan untuk Anita, dia lalu kembali berfoto dengan teman-temannya yang hadir disana, termasuk Rama. Mereka kembali menjadi bahan sorakan teman-teman yang lain.
    Malamnya Anita dan Rama kembali bbman, tanpa disangka-sangka Rama mengirimkan sebuah puisi untuk Anita,
    My heart beats faster when I first saw you
    I like you,
    but it’s just a poetry…
    Sebuah puisi yang sangat berarti untuk Anita, walau hanya sekedar puisi.
    ***
    Hari terakhirnya di Jakarta sangat membuat Anita sedih, Ia merasa tidak rela meninggalkan semuanya, sekolah, sahabat dan teman-temannya, juga Rama.
    Malam yang kini dihiasi oleh bintang – bintang menemani Anita, bulan seolah mengerti apa yang ia rasakan, malam yang sunyi seakan menikmati isak tangis kecil Anita.
    Ia akan kembali ke Depok untuk kuliah di Universitas Negeri disana dan Rama, Ia akan berkuliah di Bogor. Jarak yang tidak cukup jauh memang, tetapi tetap saja semua berbeda.
    Hari yang paling tidak ingin Anita temui-pun tiba, hari dimana Ia harus merelakan semua kehidupannya di Jakarta dan memulai hidup baru di Depok, meninggalkan semua jejak-jejak yang Ia ukir bersama teman-temannya, meninggalkan Cinta pertamanya untuk pergi, merelakan semuanya.
    -Beberapa bulan kemudian-
    Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat, Ia sudah menduduki bangku kuliah. Sudah lama sekali Ia tidak melihat teman-teman seperjuangannya, sudah lama sekali rasanya Ia meninggalkan Jakarta dan sudah lama sekali Ia merindukan Rama. Sampai saat ini perasaannya untuk Rama tetap utuh, sama seperti 2 tahun yang lalu, tidak sedikitpun berubah. Ia tetap menyimpan semua kenangan bersama Rama di memori otak dan juga hatinya.
    Walau akhirnya Ia dan Rama hanya tetap berteman, Anita tetap senang, setidaknya Ia sudah mendapat kesempatan untuk bertemu dan sayang sama Rama. Rama adalah cinta pertamanya, cinta yang tidak akan pernah bisa hilang dari hatinya, cinta yang akan selalu Ia rasakan. Walau terkadang, mengingat cintanya itu Anita merasa sakit.
    “Yah, ini adalah kenyataan, bukan cerita di dongeng atau sinetron yang selalu berakhir bahagia, di dunia nyata, rasa sakit bisa sangat menyiksa kita. Rasa sakit terasa begitu nyata. Tapi, rasa sakit juga yang membuat kita bertambah kuat. Gue sendiri sangat amat berterimakasih sama Rama, karena tanpa dia, gue ngga akan berubah menjadi Anita yang sekarang, Anita yang lebih hati – hati dalam menyeleksi cinta. Karena Rama juga, gue jadi cengeng, hahaha, kalian tau? Dia adalah cowok pertama yang bisa ngebuat gue nangis, sampai rasanya sulit untuk bernafas, dia yang ngajarin gue cara untuk mencintai, tapi dia juga yang ngenalin gue sama yang namanya patah hati. Rama is one of the most important person in my lifeThanks Ram, thanks for everything.” Tulis Anita di halaman tumblrnya.
    Sampai detik ini, Anita masih menyimpan rasa yang sama, dengan sejuta harapan yang terus Ia gantungkan kepada Rama, harapan yang mungkin sulit untuk terwujud. Anita juga masih menggantung sejuta angan-angan untuk Rama. Tidak ada yang berubah dari perasaan Anita. Sekarang atau nanti, Ia yakin, perasaannya tidak akan pernah berubah.
    Mungkin Anita memang orang yang terlalu polos untuk hal cinta atau bahkan bodoh? Hanya dia yang bisa memastikan itu…